Myblog

Mylife
  • Jual Mobil Bekas

    Kami menjual aneka merk mobil bekas berrkualitass ...

  • Jual Mobil Bekas Berkualitas

    Kami menjual aneka merk mobil bekas

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Hindu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Januari 2021

Sri Kesari Warmadewa


Shri Kesari Warmadewa adalah Wangsa Warmadewa yang pernah berkuasa di Pulau Bali, Indonesia dari Tahun 882 M s/d 914 M.
Dalem Shri Kesari pendiri Dinasti Warmadewa di Bali. Raja dinasti Warmadewa pertama di Bali adalah Shri Kesari Warmadewa [ yang bermakna Yang Mulia Pelindung Kerajaan Singha] yang dikenal juga dengan Dalem Selonding, datang ke Bali pada akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10, beliau berasal dari Sriwijaya(Sumatra) dimana sebelumnya pendahulu beliau dari Sriwijaya telah menaklukkan Tarumanegara( tahun 686) dan Kerajaan Kalingga di pesisir utara Jawa Tengah/Semarang sekarang. Persaingan dua kerajaan antara Mataram dengan raja yang berwangsa Sanjaya dan kerajaan Sriwijaya dengan raja berwangsa Syailendra( dinasti Warmadewa) terus berlanjut sampai ke Bali.


Didalam sebuah kitab kuna yang bernama "Raja Purana", tersebutlah seorang raja di Bali yang bernama Shri Wira Dalem Kesari dan keberadaan beliau dapat juga diketahui pada prasati ( piagam ) yang ada di Pura Belanjong di Desa Sanur, Denpasar, Bali. Di pura itu terdapat sebuah batu besar yang kedua belah mukanya terdapat tulisan kuna, sebagian mempergunakan bahasa Bali kuna dan sebagian lagi mempergunakan bahasa Sansekerta. Tulisan-tulisan itu menyebutkan nama seorang raja bernama "Kesari Warmadewa", beristana di Singhadwala. Tersebut juga didalam tulisan bilangan tahun Isaka dengan mempergunakan "Candra Sengkala" yang berbunyi : "Kecara Wahni Murti". Kecara berarti angka 9, Wahni berarti angka 3 dan Murti berarti angka 8. Jadi Candra Sekala itu menunjukan bilangan tahun Isaka 839 ( 917 M ). Ada pula bebrapa ahli sejarah yang membaca bahwa Candra Sengkala itu berbunyi "Sara Wahni Murti", sehingga menunjukan bilangan tahun Isaka 835 ( 913 M ). Pendapat yang belakangan ini dibenarkan oleh kebanyakan para ahli sejarah.

Dengan terdapatnya piagam tersebut, dapatlah dipastikan bahwa Shri Wira Dalem Kesari tiada lain adalah Shri Kesari Warmadewa yang terletak dilingkungan desa Besakih. Beliau memerintah di Bali kira-kira dari tahun 882 M s/d 914 M, seperti tersebut didalam prasasti-prasasti yang kini masih tersimpan didesa Sukawana, Bebetin, Terunyan, Bangli ( di Pura Kehen ), Gobleg dan Angsari. Memperhatikan gelar beliau yang mempergunakan sebutan Warmadewa, para ahli sejarah menduga bahwa beliau adalah keturunan raja-raja Syailendra di Kerajaan Sriwijaya ( Palembang ), yang datang ke Bali untuk mengembangkan Agama Budha Mahayana. Sebaimana diketahui Kerajaan Sriwijaya adalah menjadi pusat Agama Budha Mahayana di Asia Tenggara kala itu.

Beliau mendirikan istana dilingkungan desa Besakih, yang bernama Singhadwala atau Singhamandawa, Baginda amat tekun beribadat, memuja dewa-dewa yang berkahyangan di Gunung Agung. Tempat pemujaan beliau terdapat disitu bernama "Pemerajan Selonding". Ada peninggalan beliau sebuah benda besar yang terbuat dari perunggu, yang merupakan "lonceng", yang didatangkan dari Kamboja. Lonceng itu digunakan untuk memberikan isyarat agar para Biksu-Biksu Budha dapat serentak melakukan kewajibannya beribadat di biaranya masing-masing. Benda itu kini disimpan di Desa Pejeng, Gianyar pada sebuah pura yang bernama "Pura Penataran Sasih"

Pada jaman pemerintahaan beliau penduduk Pulau Bali merasa aman, damai dan makmur. Kebudayaan berkembang dengan pesat. Beliau memeperbesar dan memperluas Pura Penataran Besakih, yang ketika itu bentuknya masih amat sederhana. Keindahan dan kemegahan Pura Besakih hingga sekarang tetap dikagumi oleh dunia.

Shri Kesari Warmadewa merupakan tokoh sejarah, ini bisa dibuktikan dari beberapa prasasti yang beliau tinggalkan seperti Prasasti Blanjong di Sanur, Prasasti Panempahan di Tampaksiring dan Prasasti Malatgede yang ketiga-tiganya ditulis pada bagian paro bulan gelap Phalguna 835 S atau bulan Februari 913. Shri Kesari Warmadewa menyatakan dirinya raja Adhipati yang berarti dia merupakan penguasa di Bali mewakili kekuasaan kerajaan lain yaitu Sriwijaya. Kemungkinan beliau adalah keturunan dari Balaputradewa, hal ini berdasarkan kesamaan cara penulisan prasasti , kesamaan dalam menganut agama Budha Mahayana dan kesamaan nama dinasti Warmadewa.

Setelah pemerintahan Sri Kesari Warmadewa berakhir, tersebutlah seorang raja bernama Sri Ugrasena memerintah di Bali. Walaupun Baginda raja tidak memepergunakan gelar Warmadewa sebagai gelar keturunan, dapatlah dipastikan, bahwa baginda adalah putra Sri Kesari Warmadewa. Hal itu tersebut di dalam prasasti-prasasti (aantara lain Prasasti Srokadan) yang dibuat pada waktu beliau memerintah yakni dari tahun 915 s/d 942, dengan pusat pemerintahan masih tetap di Singha-Mandawa yang terletak disekitar desa Besakih. Prasasti-Prasasti itu kini disimpan didesa Babahan, Sembiran, Pengotan, Batunya (dekat Danau Beratan), Dausa, Serai (Kintamani), dan Desa Gobleg.

Baginda raja Sri Tabanendra Warmadewa yang berkuasa di Bali adalah raja yang ke tiga dari keturunan Sri Kesari Warmadewa. Baginda adalah putra Sri Ugrasena, yang mewarisi kerajaan Singhamandawa. Istri Baginda berasal dari Jawa, adalah seorang putri dari Baginda Raja Mpu Sendok yang menguasai Jawa Timur. Didalam prasasti yang kini tersimpan didesa Manikliyu (Kintamani), selain menyebut nama Baginda Sri Tabanendra Warmadewa, dicantumkan pula nama Baginda Putri. Beliau memerintah dari tahun 943 s/d 961.

Sumber
https://sr.rodovid.org/wk/%D0%9F%D0%BE%D1%81%D0%B5%D0%B1%D0%BD%D0%BE:ChartInventory/777059

Kamis, 21 Januari 2021

Petirtaan Belahan


Pethirtaan Belahan dikenal jg sbg Candi Belahan atau Sumber Tetek, adalah pethirtaan bersejarah yg terletak di sisi Timur Gunung Pawitra/ penanggungan. Tepatnya ada di Dusun Belahanjowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan isi dr Prasasti Cunggrang (851 Saka atau 929 M) yg di keluarkan Raja Medhang Mpu Sindok, Sri Icanawikrama Dharmotunggadewa, yg berisi penganugrahan Sima Swatantra ( pembebasan tanah dr pajak), kepada penduduk desa Cunggrang, yg tlh melakukan pemeliharaan Dharmasrama patapan, prasada Silunglung, dan Thirta pancuran. Thirta pancuran yg disebutkan dlm prasasti tsb mengacu pada Pethirtaan Belahan.                                          
Struktur bangunan pethirtaan Belahan berdiri pd kolam berbentuk persegi dg luas 6x4M dg susunan batu merah di sebelah selatan. Di bagian depan pethirtaan terdpt pintu masuk berupa pondasi Gapura paduraksa.                                      
                                                          
Pethirtaan Belahan di fungsikan sebagai penampungan Air suci( thirta Amerta) yg mengalir dr Gunung Pawitra yg disucikan pada masa itu. Air Suci tsb di percaya memberikan kesuburan, awet muda, yg disimbolkan melalui Arca Dewi Sri & Dewi Laksmi yg terpahat di relung pethirtaan. Selain kedua Arca tsb pd bagian tengah pethirtaan trdpt satu relung yg merupakan tempat Arca Dewa Wisnu menaiki Garuda ( garuda Wisnu Kencana). Saat ini Arsa tsb di simpan di Museum Trowulan, Mojokerto. Arca Garuda Wisnu Kencana  tsb adalah bentuk pemuliaan& penghormatan terhadap Raja Airlangga Raja Kahuripan yg merupakan penganut Hindu aliran Waisnawa...